LABEL

SAABI PRAYA AMRIH KUNCARA, DESA TULAKAN KALINYAMAT (KARTA LESTARI NYAMAN AMAN DAN TERHORMAT)

Sabtu, 20 Juli 2013

WARTA DESA





PEMERINTAH KABUPATEN JEPARA
KECAMATAN DONOROJO
PETINGGI TULAKAN
 


KEPUTUSAN PETINGGI TULAKAN
NOMOR  7 TAHUN 2013

TENTANG

PEMBENTUKAN PANITIA PEMILIHAN ANGGOTA
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD) DESA TULAKAN
MASA BAKTI 2013 - 2019


PETINGGI TULAKAN,

Menimbang     :
a.  bahwa untuk melaksanakan beberapa ketentuan yang diamanatkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Jepara Nomor 9 Tahun 2007 tentang Badan Permusyawaratan Desa, perlu dibentuk Badan Permusyawaratan Desa Tulakan;

b.         bahwa untuk kelancaran dan berhasilnya maksud tersebut huruf a di atas maka perlu dibentuk Panitia Pemilihan Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan ditetapkan dengan Keputusan Petinggi.

Mengingat       :
1.         Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Tengah;
2.         Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008 tentang  Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008  Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
3.         Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa (Lembaran Negara Republik  Indonesia  Tahun 2005 Nomor 158 , Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia  Nomor 4587);
4.         Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa;
5.         Peraturan  Daerah Kabupaten Jepara Nomor 9 Tahun 2007 tentang Badan Permusyawaratan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Jepara Tahun 2007 Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Jepara Nomor 8);
6.           Peraturan Bupati Jepara Nomor 13 tahun 2007 tentang  Teknis Penyusunan Peraturan Desa, Peraturan Petinggi dan Keputusan Petinggi (Berita Daerah Kabupaten Jepara Tahun 2007 Nomor 11);
7.   Peraturan Bupati Jepara Nomor 14 tahun 2007 tentang  Pedoman Pembentukan Badan Permusyawaratan Desa (Berita Daerah Kabupaten Jepara Tahun 2007 Nomor 12);
8.    Peraturan Desa Tulakan Nomor 1 Tahun 2013 tentang  Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Tulakan Tahun 2013 (Berita Daerah Kabupaten Jepara Tahun 2013 Nomor 17).

MEMUTUSAN:

Menetapkan   :

PERTAMA     :



KEDUA          :















KETIGA          :


KEEMPAT     :


Membentuk Panitia Pemilihan Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Tulakan sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.

Panitia Pemilihan Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Tulakan sebagaimana tercantum dalam Diktum PERTAMA Keputusan ini mempunyai Tugas dan Wewenang :
1.         Mengajukan Rencana Anggaran Biaya;
2.         Menyusun Tatacara pemilihan anggota BPD;
3.         Melakukan pendaftaran calon anggota BPD;
4.  Meneliti kelengkapan dan persyaratan administrasi calon anggota BPD;
5.         Menetapkan calon anggota BPD;
6.         Mengumumkan calon anggota BPD;
7.         Melaksanakan Pemilihan;
8.         Membuat Berita Acara hasil pemilihan;
9.    Menyampaikan laporan pelaksanaan pemilihan kepada Petinggi;
10.      Mengusulkan calon terpilih kepada Petinggi.

Segala biaya yang timbul dengan diterbitkannya keputusan ini dibebankan kepada APBDesa Tulakan Tahun 2013.

Keputusan ini berlaku pada tanggal ditetapkan.






Ditetapkan di Tulakan
Pada tanggal 10 Juli 2013

PETINGGI TULAKAN,





MUHAMMAD SUTRISNO






















Lampiran       :     Keputusan Petinggi Tulakan
      Nomor  7  Tahun  2013
      Tanggal10  Juli  2013
      Tentang    :    Pembentukan Panitia Pemilihan Anggota
                             Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
                             Desa Tulakan Masa Bakti 2013 – 2019.
 



SUSUNAN PANITIA PEMILIHAN ANGGOTA
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD) DESA TULAKAN
MASA BAKTI 2013 – 2019

     
NO.
NAMA
KEDUDUKAN DALAM KEPANITIAAN
KETERANGAN
1.
H. Zaenal Arisin, S.Pd., MM
Ketua merangkap Anggota
Ketua RW
2.
Rohmad, S.Pd.
Wakil Ketua merangkap Anggota
Ketua RW
3.
Maftukin, S.Ag.
Sekretaris merangkap Anggota
Tokoh Masyarakat
4.
Budi Sutrisno, S.Pd.
Anggota
Ketua RT
5.
Masrukhan
Anggota
LKMD
6.
Sujianto
Anggota
Ketua RW
7.
Yasin
Anggota
Tokoh Masyarakat
8.
Komari
Anggota
Ketua RT
9.
HM. Wahyudi
Anggota
Tokoh Agama
10.
Sukir
Anggota
Ketua RW
11.
Supriyo
Anggota
Ketua RT
12.
Sunardi, S.Pd.
Anggota
Ketua RW
13.
Sholeh
Anggota
Ketua RT
14.
Markus Yarkasi
Anggota
LMDH
15.
Tarkan
Anggota
Ketua RT



  PETINGGI TULAKAN,




MUHAMMAD SUTRISNO















Sabtu, 23 Februari 2013

Letak Geografis


PERTAPAAN RATU KALINYAMAT
(Riwayat Desa Tulakan) 


Sultan Trenggono Raja Demak menikah dengan Roro Pembayun dan mempunyai 6 (enam) putra, yang sulung adalah Pangeran Mukmin dan 5 (lima) orang adiknya semua puteri. Pangeran Mukmin atau terkenal dengan nama Sunan Prawoto mempunyai  anak yang bernama Aria Pangiri dan Aria Pangiri mempunyai anak yang bernama Pangeran Mas.
Ratu Kalinyamat menikah dengan Pangeran Hadlirin yang juga dikenal sebagai Sultan / Sunan Hadlirin sebagai Adipati Jepara. Sultan Hadlirin mati dibunuh oleh Arya Penangsang – Adipati Jipang.  Arya Penangsang adalah putra dari Surawijaya yang dikenal juga sebagai Pangeran Seda Lepen.
Kematian Sultan Hadlirin menyebabkan kedudukan yang sangat mendalam di hati Ratu Kalinyamat. Karena kedukaannya yang mendalam itulah Ratu Kalinyamat bertekad untuk menyepi, menyendiri, bertapa di tempat yang tenang dan jauh dari Kadipaten Jepara.
Ratu Kalinyamat melepas semua perhiasan dan tanda-tanda kebesaran yang biasa dipakainya. Ia berpakaian layaknya wanita kebanyakan.
Tekad Ratu Kalinyamat, tidak bersedia mengakhiri bertapanya sebelum Arya Penangsang terbunuh, darahnya untuk keramas dan jambulnya (rambutnya) untuk “kesed”  (membersihkan kaki).
Bunyi sumpahnya : “Ora pati-pati wudhar topo ingsun, yen durung keramas getihe Arya Penangsang lan kesed jambule”.  
Demikianlah, dengan pengiring para dayang kinasih dan pengawalan prajurit pilihan yang dipimpin oleh Ki Suto Mangunjoyo, berangkatlah beliau mencari tempat untuk bertapa.
Dalam perjalanan, rombongan beberapa kali beristirahat untuk melepas lelah. Setelah berhari-hari melakukan perjalanan, tibalah rombongan tersebut di sebuah perbukitan yang bernama Bukit Donorojo. Puncak perbukitan tersebut berjumlah lima buah yang terkenal dengan nama Puncak Pendowo, lama kelamaan masyarakat menyebutnya Pucang Pendowo. Mereka beristirahat di kaki perbukitan tersebut, yang di kemudian hari menjadi sebuah perkampungan dan dinamakan Perdukuhan Donorojo, yang lama kelamaan berubah menjadi Perdukuhan Drojo.
Kemudian Ratu Kalinyamat mengutus dua orang prajurit untuk mencari tempat pertapaan di sekitar bukit Donorojo tersebut. Pada waktu mencari tempat pertapaan, sampailah kedua orang utusan di sebuah berubah menjadi tempat penuh semak belukar. Di tempat ini kedua utusan kebingungan, tak tahu arah kemana akan melanjutkan perjalanannya (Bahasa Jawa “kepejeng/keposong”).  Oleh karena itulah tempat tersebut kemudian dinamakan Dukuh Pejeng, yang lama kelamaan berubah menjadi Dukuh Pejing. Dalam kebingungan tersebut, tiba-tiba muncullah perempuan setengah baya. Setelah berbincang-bincang dengan kedua utusan, perempuan tersebut mengaku masih perawan tetapi sudah agak terlambat kawin (prawan kasep), kedua utusan kemudian memperkenalkan diri, bahwa ia adalah utusan Ratu Kalinyamat yang diutus untuk mencari tempat pertapaan yang baik dan tepat untuk bertapa. Kedua utusan minta tolong untuk menunjukkan dimana tempat yang tepat untuk bertapa, Perempuan tersebut bersedia menunjukkan tempatnya dengan  syarat kedua utusan berjanji mencarikan jodoh untuknya, agar segera menikah (Bahasa Jawa : “tak tuduhke, waton aku golekno bojo, kareben ndang payu laki”.  Dari kata “laki” itulah sebagian orang menyalah artikan, sehingga terjadi pengertian yang negatif dan kurang sopan. Singkat kata kedua utusan menyetujui permintaan perempuan tersebut.
Demikianlah atas petunjuk “prawan kasep” tersebut, diketemukan sebuah lembah kecil ditepi sebuah sungai yang jernih airnya dan sejuk udaranya, dipenuhi pohon-pohon besar yang rindang. Kedua utusan  merasa mantap dan menemukan harapan yang besar bahwa tempat itu sangat tepat dan cocok untuk bertapa dan kembalilah kedua utusan menghadap Ratu Kalinyamat di peristirahatannya di kaki bukit Donorojo (Drojo).
Meskipun belum hilang rasa lelah para anggota rombongan tersebut, segera setelah kedatangan kedua utusan, mereka berangkat menuju tempat tujuan, sebagian dayang-dayang pengiring Ratu Kalinyamat merasakan kelelahan yang tak tertahankan lagi. Dayang-dayang beristirahat, sedangkat Ratu Kalinyamat tetap melanjutkan perjalanan menuju tempat pertapaan.
Pada waktu dayang-dayang meninggalkan tempat beristirahat untuk menyusul Ratu Kalinyamat ke tempat pertapaan,  selendang sutera - dalam bahasa jawa “Sonder”  dari salah satu dayang tersebut ada yang tertinggal. Oleh sebab itu di tempat tersebut akhirnya dinamakan Sonder (Sonde = kelelahan, Sonder = Selendang sutera).
Kemudian Ki Suta Mangunjaya bersama dengan prajuritnya segera bekerja keras membangun sebuah pertapaan di Siti Wangi tersebut.
Sesampainya di lembah kecil dekat sungai tersebut, Ratu Kalinyamat segera turun dari tandunya dan diambillah segenggam tanah serta diciumnya. Ternyata tanah tersebut berbau harum (wangi). Oleh karena bau tanah tersebut “wangi”, maka tempat pertapaan tersebut kemudian dinamakan “Siti Wangi”  (siti = tanah, wangi = harum).
Setelah bangunan pertapaan jadi, segera Ratu Kalinyamat memulai tapa bratanya yang sebelumnya didahului dengan Ratu Kalinyamat mandi dan bersuci disungai yang berada disebelah pertapaan tersebut. Ketika akan mandi, di alur sungai bagian hulu terlihatlah ada sebuah bentuk. Bentuk itu seperti batu, tetapi juga seperti gajah. Kata Ratu Kalinyamat : “kuwi watu opo gajah, gajah opo watu”. Memang betul batu  besar di tengah sungai tersebut berbentuk seperti gajah. Oleh sebab itu kemudian sungai tersebut dinamakan “Kali Gajahan”.
Demikianlah Ratu Kalinyamat bertapa di Siti Wangi dalam beberapa tahun lamanya. 
Setelah datangnya utusan dari Kadipaten Jepara yang memberitahukan bahwa Arya Penangsang telah mati karena berperang tanding dengan Sutawijaya dan sebagai bukti, utusan tersebut menghaturkan secangkir darah dan segenggam rambut Arya Penangsang, maka berakhirlah Ratu Kalinyamat dari bertapanya. Sebagaimana sumpahnya darah Arya Penangsang diusapkan ke rambutnya  dan segenggam rambut Arya Penangsang dibuat untuk “keset” (membersihkan kaki).
Ratu Kalinyamat kembali ke Kadipaten Jepara, setelah terlebih dahulu mandi dan bersuci di Kali Gajahan. Adapun sebagian prajurit dan dayang kinasih pengiringnya tetap tinggal di tempat itu dan selanjutnya menjadi cikal bakal penduduk Dukuh Pejing dan Sonder. Sedangkan “perawan kasep” sebagaimana disebutkan diatas akhirnya diperistri oleh salah satu utusan pencari tempat bertapa, beranak pinak dan bermukim di Dukuh Pejing.  Demikian juga Ki Suta Mangunjaya, karena sudah tua dan sering sakit-sakitan tidak turut kembali ke Kadipaten. Tidak lama kemudian Ki Suta Mangunjaya meninggal dunia dan dimakamkan di hutan yang menjadi tempat tinggalnya, sekarang masuk wilayah Desa Banyumanis dan terkenal dengan Punden Mbah Suta Mangunjaya.
Demikianlah cerita tentang pertapaan Nyai Ratu Kalinyamat. Sekarang bekas pertapaan tersebut ramai dengan peziarah yang datang dari segala penjuru tempat dan bekas pertapaan tersebut sampai sekarang terkenal dengan sebutan : Punden Nyai Ratu Kalinyamat.